5 Manfaat Kurikulum Merdeka untuk Guru dan Siswa, Bukan Sekadar Menghafal Pelajaran : Okezone Edukasi

5 Manfaat Kurikulum Merdeka untuk Guru dan Siswa, Bukan Sekadar Menghafal Pelajaran : Okezone Edukasi

JAKARTA – Kurikulum Merdeka diklaim lebih mudah diserap guru dan siswa. Bukan seperti selama ini yang kaku atau sekadar menghafal materi, Kurikulum Merdeka dinilai lebih fleksibel. Apa saja keunggulannya?

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek, Zulfikri Anas, mengatakan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan alat (tools) agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat. Kurikulum Merdeka, kata Zulfikri, bukan sekadar perubahan dokumen dan administrasi, tetapi lebih pada peningkatan kualitas belajar peserta didik dan meningkatkan kualitas hubungan guru dengan anak didiknya.

 BACA JUGA:

“Penekanannya di sini adalah seberapa jauh terjadinya perubahan dalam proses belajar, bukan sekadar menuntaskan penyampaian materi kurikulum kepada anak. Ukurannya bukan banyaknya materi yang mampu diserap anak, melainkan lebih kepada seberapa sesuai pelayanan terhadap anak, sehingga setiap anak dapat menemukan cara terbaik bagi dirinya untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Zulfikri dalam keterangan resmi kepada Okezone, Sabtu (19/8/2023).

 

Kelebihan Kurikukum Merdeka

1. Ubah Kebiasaan Lama

Kurikulum Merdeka ingin mengubah kebiasaan sebelumnya yang membuat guru terbelenggu format-format  administrasi yang kaku dan rumit. Format yang kaku dan rumit ini mengakibatkan guru selama ini  kekurangan waktu untuk memikirkan dampak ketertinggalan anak. 

2. Lebih Sederhana

 

Pada Kurikulum Merdeka, lanjut Zulfikri, pembelajaran lebih berpusat pada siswa dengan menyederhanakan perangkat ajar, perencanaan yang dibuat lebih simpel, mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru, serta mudah dipahami dan dicapai oleh siswa.

“Kita memberikan ruang kepada tenaga pendidik untuk menyelesaikan persoalan masing-masing siswa terkait kemampuan dasar yang dimiliki dan apa yang dibutuhkan,” ujar Zulfikri.

3. Lebih Interaktif

Zulfikri juga menekankan Kurikulum Merdeka bukan untuk mempersulit guru, akan tetapi mempermudah proses pembelajaran. Sehingga guru bisa mewujudkan suasana belajar yang interaktif, bermakna, mendalam, dan anak merasa menemukan dunia belajarnya di situ.

Baca Juga  Alasan MUI Keluarkan Fatwa Panji Gumilang Nodai Agama : Okezone Nasional


Follow Berita Okezone di Google News


 

4. Disesuaikan dengan Kearifan Lokal dan Lingkungan Siswa

 

Kepala Bidang SMK, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Banten, Arkani, mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka agar dilaksanakan secara masif di seluruh satuan pendidikan di Banten. Arkani mengemukakan, Kurikulum Merdeka yang dilengkapi dengan platform Merdeka Mengajar merupakan kurikulum terbaik yang ia temui sejak menjadi guru pada tahun 1984.

“Baru ketemu lagi sekarang kurikulum yang fokus pada bagaimana kita lebih memaknai pembelajaran itu dari penalaran, literasi, dan numerasi,” ucapnya.

Kelebihan dari Kurikulum Merdeka ini, kata Arkani, sistem pembelajarannya dikaitkan dengan hasil survei lingkungan belajar siswa. “Kalau melihat anak yang sehari-harinya dari kecil berkutik dengan ikan karena orang tuanya nelayan, maka anak ini jangan dibawa ke hal lain. Tetapi, harus dibimbing agar sukses untuk menjadi nelayan dengan memanfaatkan teknologi kelautan yang lebih baik sehingga menjamin kesuksesannya. Pada Kurikulum Merdeka, hal ini bisa dilakukan,” tutur Arkani.

 BACA JUGA:

5. Disesuaikan Kemampuan Siswa

Guru SLB SKH Negeri 01 Kota Serang, Hudayani Sabilah Fitri, mengemukakan bahwa Kurikulum Merdeka ini sudah sejalan dengan apa yang dibutuhkan di sekolah sehingga sejak dulu sekolahnya sudah menerapkan kurikulum yang basisnya sama dengan Kurikulum Merdeka. Kelebihannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak.

“Kami juga tidak menuntut anak harus mencapai target yang ada pada kurikulum, jadi kami harus menyesuaikan kembali sesuai hasil asesmen anak,” ucapnya.

Ia mencontohkan, peserta didiknya yang kelas IV, dari capaian pembelajaran targetnya harus bisa menghitung sampai dengan 50. “Ketika melihat kondisi anak saya tidak mampu untuk menghitung sampai 50, maka kita turunkan fasenya ke fase A yaitu menghitung sampai 20,” ujar Handayani.

Baca Juga  Ide Outfit Couple ala Indah Permatasari dan Arie Kriting, Romantis nan Stylish! : Okezone Lifestyle

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *